Tuesday, May 02, 2006

nasib....nasib....

050106

Lepas dari Det JP, roda kehidupanku blom juga menunjukan titik terang. Sempat kerja di salah satu majalah free lokal pada awal Nopember 2005, tapi akhirnya harus cabut di akhir tahun 2005.

Dua bulan yang singkat sekaligus mengenaskan. Kenapa? Karena selama kerja 2 bulan itu aku hanya digaji 1 bulan! Kok bisa?

Jadi ceritanya begini sodara:

Aku resmi tanda tangan kontrak dengan majalah itu tanggal 23 Oktober 2005 pas bulan puasa. Nah, berhubung waktu itu waktunya mepet buanget ama lebaran, jadinya pihak majalah itu ngasih kebijakan untuk mulai aktif bekerja per tanggal 7 Nopember sehabis lebaran. Dan ternyata tanggal itu pula yang dijadikan patokan pihak majalah untuk membayar dana pengganjal perut alias gajiku.

Bulan pertama kulalui hari ditempat baru dengan suasana lumayan indah. Ngobrol bareng teman baru, cangkruk di depan kantor sembari menghisap inter kesayangan. Curi makanan dari dapur kantor dikala perut mulai “konser”. Dan yang pasti mulai aktif menulis lagi. Kegiatan yang udah dua bulan lebih aku tinggalkan.

Awal kerja membuat aku kembali bisa tertawa, apalagi kalo hitungan tanggal mulai mendekati angka keramat (baca: tujuh). Bisa dipastikan senyuman bakal selalu tersungging bibir manisku.

Memasuki bulan kedua, masalah mulai datang. Aku merasa dana pengganjal perut yang aku terima masih blom mampu mengganjal perutku yang kata teman-teman emang mempunyai lempeng besar.

Setelah beberapa hari otak dipenuhi pikiran yang teramat menyulitkan, akhirnya tanggal 31 Desember aku membuat keputusan berani plus konyol. Yup, aku memilih cabut dari pekerjaan itu.

Kenapa berani? Kenapa konyol?

Berani karena keputusan itu aku ambil di saat permasalahanku (baca:utang) masih menumpuk. Konyol karena keputusan keluar itu aku ambil tepat tanggal 31 Desember, yang notabene masih kurang 7 hari lagi terima uang pengganjal perut! So, bisa di tebak, bulan Januari ini pemasukan di kantong mungilku nihil alias kosong alias gak onok blas!

Hua…….. trus gimana aku harus mengatasi utang-utangku yang kata Tito* “Sak Indonesia Raya”? Gimana harus bertahan hidup di awal tahun 2006 yang mencekam ini? Yok opo iki? Hua………

*Tito adalah tetangga depan rumah, bertubuh subur, berkulit hitam, manusia yg sarat akan banyolan.

0 komentar: